Text
Kisah Anak Rantau
Hari ini masih sama seperti hari kemarin. Langit biru berselimut awan tipis. Matahari terbit dari timur. Dinginnya udara masih setia menyertai. Sama dan tetap akan sama setiap harinya. Beberapa guru berjaga di gerbang sekolah. Dengan senyum tulusnya, mereka menyambut kedatangan para generasi penerus bangsa.
Sementara itu, satu demi satu, para siswa berdatangan dari segala penjuru. Sebagian langsung menuju kelas. Sebagian lagi asyik berbincang di lapangan basket sambil mendengarkan lagu nasional yang diputarkan lewat pengeras suara. Ada pula yang hanya duduk-duduk di bangku depan kelas sambil membaca buku, entah buku apa yang mereka baca.
Bel berbunyi. “Saatnya jam pertama dimulai,” suara itu terdengar sangat nyaring, kemudian diikuti dengan suara yang tak kalah nyaringnya, “I’ts time to begin the first lesson,” yang melengking dari sebuah speaker. Suara itu tak hanya terdengar oleh para guru dan siswa, tetapi juga warga sekitar.
Suara itu menghentikan obrolan siswa di lapangan basket, bangku, dan halaman. Suara yang menghantarkan seluruh siswa ke pintu kelas. Sekolah menerapkan aturan yang sangat tegas. Lima menit sebelum bel berbunyi, seluruh siswa harus sudah berada di dalam area sekolah.
Siswa yang terlambat, bisa saja mereka dipulangkan atau setidak-tidaknya harus keliling lapangan, menyanyikan lagu nasional, memungut sampah, atau menyapu halaman sekolah terlebih dahulu untuk dapat izin masuk kelas.
Aturan itu menjadikan siswa lebih disiplin. Mereka sangat takut terlambat. Pelanggaran-pelanggaran lainnya juga jarang dilakukan siswa. Pembelajaran di sekolah lebih kondusif. Entah karena benar-benar ketulusan hati untuk belajar atau karena sanksi yang diberikan sekolah. Namun, setidaknya secara kasat mata, proses pembelajaran pada sekolah itu terlihat sangat baik.
Pagi ini, dua jam ke depan jadwal kelas 2-E adalah Bahasa Indonesia. Pak Ali masuk ruangan pukul 07.05 atau lima menit setelah bel berbunyi. Masih seperti biasa, setelah berdoa bersama, Pak Ali membuka daftar hadir siswa dan jurnal pembelajaran. Satu per satu nama ia
panggil hingga pada urutan ke-20, nama yang selalu mencuri perhatian penghuni kelas pada jam pertama.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain